Sabtu, 30 Agustus 2008

WHY KISSING ALWAYS BE THE ANSWER?

Sesuai judulnya, tulisan ini bicara tentang adegan kiss-kissan yang tampaknya menjadi adegan 'wajib' dalam berbagai film, tak terkecuali film Indonesia. Tidak peduli film itu film romantis--roman manis hati iblis :)--mau pun film horor, biasanya ada adegan 'begituan', minimal adegan ciuman baik yang hot mau pun yang 'numpang lewat'. Baik yang artistik mau pun yang vulgar. Baik yang membuat badan 'panas dingin' karena sangat ehm mau pun yang membuat 'tertawa sampai menangis' karena sangat kaku hingga terlihat konyol. Mungkin, satu-satunya adegan ranjang yang membuat saya tersenyum maklum adalah adegan ranjang Jack Nicholson-Diane Keaton dalam Something's Gotta Give (2003). Yang lainnya... reaksi saya tentu berbeda-beda. Tapi umumnya reaksi saya adalah : perlukah adegan ini? Relevan-kah dengan tema film-nya sendiri?

Jangan salah sangka dulu. Saya bukan makhluk 'antik' yang sok suci. Malah, adegan Rangga mencium Cinta (pelajaran penting : cowok cool tetaplah cowok, main nyosor begitu ada kesempatan) dalam Ada Apa dengan Cinta? (2002) adalah adegan favorit saya selain adegan Rangga mengejar kawanan yang melempari rumahnya dalam film remaja laris itu. Tampaknya, ciuman itu memang 'harus' diberikan Rangga, sebuah ciuman yang terpaksa saya maklumi karena dia--Rangga--akan pergi jauh namun juga enggan melepaskan Cinta.


Meskipun beralasan, diam-diam saya 'terusik' juga. Mengapa berciuman selalu menjadi jawaban atas pertanyaan : "maukah kamu menjadi pacarku?" Bukankah kalau 'ditembak', kita bisa saja menjawabnya dengan pendek, "ya" atau kalau suara sedang 'hilang', apa susahnya mengangguk saja? Kenapa harus melibatkan nafsu segala?

Sebenarnya, saya sih senang-senang saja menonton film yang ada adegan kiss-kissan-nya. Hanya, yang menjadi pertanyaan saya : apa tidak ada cara lain untuk menunjukkan bahwa Si A dan Si B sedang dimabuk cinta?

Iya, saya terusik karena curiga : jangan-jangan para pembuat film sudah kehabisan ide untuk menggambarkan bagaimana dua insan sedang dimabuk cinta (cieee... 70an bang-get...) hingga dipilihlah jalan pintas : ciuman di daerah sensitif, terutama bibir. Malah, kadang lebih parah lagi, pakai adegan ranjang segala, padahal film Indonesia!

Mengapa ciuman selalu menjadi jawabannya? Mengapa hubungan seks (pra nikah) menjadi hal yang menyenangkan untuk dilakukan secara bebas? Padahal kita--jauh-jauh hari--sudah di-doktrin bahwa melakukan hubungan seks pra nikah adalah berbahaya karena dapat menyebabkan kehamilan tak diinginkan, penularan penyakit seksual dan seterusnya. Ciuman di bibir--apalagi yang french kiss--tidak dianjurkan karena selain menjadi pembuka 'jalan' menuju 'adegan ranjang', juga dapat menularkan penyakit melalui air liur.

Jadi, dengan segala fakta menakutkan itu, mengapa film (terutama film Indonesia!) masih saja mengumbar adegan seks yang kadang hanya menjadi tempelan untuk memikat penonton semata?

Seiring dengan berjalannya waktu, basa-basi model begini semakin kasar dalam penyampaiannya. Film-film yang mengaku mengusung tema komedi dan sex education untuk remaja justru menjadi bumerang bagi keselamatan remaja itu sendiri. Agar tidak dituding film mesum, ditambahkanlah embel-embel sex education, padahal ujung-ujungnya sama : menjadikan seks sebagai komoditas dagang. Mirip-miriplah dengan apa yang ditampilkan dalam film-film horor yang menyisipkan adegan 'panas'.

Kenapa harus begitu? Film horor ya horor aja, tidak usah dihubung-hubungkan dengan seks. Demikian juga dengan film remaja yang sok dengan sex education-nya. Kalau mau bikin film ala Warkop DKI, kenapa harus gengsi dan mengaku-ngaku untuk mendidik remaja (dan kadang-kadang, kaum dewasa) segala?

Sialnya, dengan alasan mengusung tema 'mendidik', visualisasi yang terhitung vulgar dan klise pun dihalalkan. Jarang ada adegan ranjang dan ciuman dalam film Indonesia yang enak dipandang. Sebagian bikin eneg, malah ada yang bikin saya ngakak karena kasar seperti harimau bertarung. Nonton kucing kawin masih lebih enak 'kali.

Sudah visualisasinya jelek, masalah yang lebih besar adalah apa yang sudah saya pertanyakan tadi : perlukah adegan ciuman dan ranjang tersebut dalam membangun cerita? Kalau kita sudah tahu bahwa si A dan si B pacaran, mengapa harus membuang-buang frame dengan adegan ciuman lagi? Lalu, apakah pernyataan cinta harus selalu dengan cara mencium pasangan di bibir?

Kalau boleh usul, sebaiknya adegan-adegan mesra yang tak perlu tersebut diganti dengan adegan-adegan yang tujuannya untuk memberikan informasi pada penonton mengenai karakter tokoh bersangkutan. Sebab, dalam film (maaf, sekali lagi, terutama dalam film Indonesia!), kita sering tidak mendapatkan informasi yang cukup mengenai karakter seorang tokoh. Misalnya, kita tidak tahu apa pekerjaan tokoh salah satu tokoh, tapi diceritakan bahwa sang tokoh mampu membeli sebuah rumah mewah. Atau kita tidak mengerti, mengapa seorang tokoh mau mati-matian membela cintanya padahal banyak wanita atau pria lain yang mencintainya...

Atau, kalau pun informasi mengenai sisi-sisi kehidupan seorang tokoh dirasakan telah cukup, bagaimana kalau adegan ciuman atau adegan ranjang itu diganti dengan adegan yang lebih 'manis'? Kalau dalam film-film zaman dulu, adegan cinta-cintaan digambarkan dengan adegan cowok menyelipkan bunga di telinga ceweknya. Uuugh...norak...

Atau bagaimana kalau dibuat adegan yang agak norak tapi lebih sopan : si cowok mencium buku atau ikat rambut ceweknya yang tertinggal. Dengan catatan, cewek itu memang pacarnya, jadi si cowok tak tampak seperti cowok pemalu yang sakit jiwa.

Masih terlalu norak?

Baik... baik... Bagaimana kalau adegan manis tapi heroik yang terinspirasi dari gaya pacaran teman saya berikut ini : teman saya (cewek) asma-nya kumat, sementara obatnya habis. Pacarnya (cowok), tengah malam dan tanpa motor mau pun angkot, berlari lebih dari tiga km pulang-pergi untuk membeli obat di apotek 24 jam dengan uangnya sendiri agar pacarnya tidak menderita lagi. Kalau ada yang menyebut itu bukan cinta, berarti orang itu tidak punya hati!

Terserah kalau mau ngomong, usulan di atas masih agak norak dan berlebihan. Tapi ini kisah nyata dan saya lihat sendiri (soalnya waktu itu saya berusaha mencari pinjaman motor tapi ga dapet) bagaimana cintanya pacar teman saya itu. Tidak ada nafsu birahi, hanya cinta demi menolong orang yang kita cintai dan sayangi. Inilah yang acap kali dilupakan oleh para pembuat film yang terlalu 'bernafsu' membuat adegan 'romantis' tapi isinya cuma nafsu dan nafsu...

2 komentar:

Brahm mengatakan...

Sebentar2! 3km tuh udah PP atau jaraknya ke apotek doang? Enggak, soalnya 3km itu porsi joggingku tiap hari. Jd yah, meskipun dilakukan malam2, buatku sih itu sekedar everyday life, blm romantis :P.

Hehehe, udah-udah. Peace! Aku ke sini buat mohon maaf lahir-batin. Kosong2 ya, Pasha. Gmn perkembangan Jiffest-mu?

PNMF mengatakan...

Sori, baru online sekarang. Emang belum, soalnya cuma lari total 6 km, bukan berenang dengan kaki diganduli batu 50 kg hehehe.
Kosong-kosong, apaan tuh maksudnya? Mohon maaf lahir bathin juga bundu eh
Jiffest? Ga mikirin lagi tuh, bodo amat mo dapet atau engga, soalnya saya lagi ikutan workshop gratisan lainnya di Lakon. Lumayanlah, sapa tau bisa jadi modal pede ngasih skrip ke PH-PH.