Sabtu, 16 Agustus 2008

ADEGAN SINETRON BODOH FAVORIT SAYA DAN USULAN UNTUK MENGGANTINYA MENJADI ADEGAN YANG LEBIH 'MASUK AKAL'

Maaf beribu maaf, jika tulisan ini hanya menambah panjang 'daftar' keburukan sinetron kita. Hanya, saya tidak sekadar menunjuk-nunjuk kebodohan insan persinetronan kita, tetapi juga berusaha membantu dan mengatakan : apa tidak sebaiknya begini saja supaya penonton tidak mencibir? Meski kebanyakan sinetron sekarang ditayangkan stripping, bukan berarti para pembuat sinetron bisa membodohi penonton dengan produksi yang isinya yah... berkelas 'daripada gak ada yang ditayangin, mendingan kaya gini aja deh'.
SI TUKANG NGINTIP DAN NGUPING
My most favorite silly scene is...the haunted people scene. Maksud saya, banyaaak sekali adegan dalam sinetron kita yang isinya orang-orang yang 'kurang kerjaan'. Misalnya, ada tokoh antagonis yang mau-maunya menghabiskan waktu, uang dan tenaga serta pikiran untuk mengikuti setiap gerak langkah orang yang ia benci seolah-olah dia sendiri tidak punya pekerjaan lain yang harus dilakukan. Kerjanya cuma menguntit, mengintip dari balik pohon (yang sebenarnya sama sekali tidak bisa menutupi tubuhnya) dan menguping pembicaraan 'musuh'. Celakanya lagi, dengan jarak terpaut cukup jauh, kok bisa-bisanya si penguntit mendengar semua pembicaraan musuhnya? Atau sebaliknya, jika jarak mereka cukup dekat, kok si penguntit tidak terlihat (padahal cuma menyembunyikan sebagian badannya di balik tembok) oleh yang dikuntit?
SARAN : adegan seperti itu dihilangkan saja karena tidak bermutu dan tidak mendidik (cieee!). Eh, ini benar. Kalaupun mau memata-matai, pakailah orang suruhan. Lebih bagus lagi pakai GPS, biar lebih canggih! Atau pakai metode penyelidikan a la Detective Conan: pakai perhitungan waktu dan pengecekan alibi, biar makin menarik dan kelihatan lebih 'cerdas'!


MAKAN BERSAMA YANG HEBOH
Adegan berikutnya adalah adegan makan pagi/siang/malam sekeluarga yang 'heboh'. Makan di meja makan dengan dandanan di rumah yang super menor dan hidangan yang cukup untuk menjamu tetangga sebelah beserta teman-temannya.
SARAN : walaupun adegan macam begini biasanya dimainkan tokoh-tokoh dari keluarga 'kaya', jangan norak-norak amat, ah. Biasa sajalah, tidak usah mengumbar kemewahan berlebihan. Masa' makan pakai lipstik dan blush-on tebal-tebal? Dandannya nanti saja, setelah makan selesai. Juga soal hidangan melimpah ruah tapi porsi yang diambil para tokohnya sedikit (biar dibilang perut priyayi!) seperti sedang diet. Makan dengan gaya formal khas aristokrat? Hehehe, Inul Daratista pun--sekalipun sudah jadi milyuner--lebih suka makan tempe bacem (biar ngga lemes, katanya) daripada direpotkan dengan makanan yang 'aneh-aneh'.
MENABRAK POHON TAPI MOBILNYA TETAP MULUS
Adegan bodoh favorit saya berikutnya adalah... adegan tabrak-tabrakan! Pernah menyaksikan adegan mobil menabrak pohon? Orang-orang dalam mobil berteriak dengan ekspresi yang lebih mirip teriakan pas nonton lomba 17 Agustusan, lalu kamera berputar seperti gasing yang sudah berputar setengah jam dan... Berikutnya yang kita lihat adalah pintu mobil terbuka lebar-lebar, para penumpangnya 'berserakan' dengan posisi menggantung di ambang pintu mobil atau telungkup di tanah. Ada dedaunan di atas mobil untuk menutupi bodi mobil yang masih mulus karena sejatinya, mobil tersebut tidak pernah menabrak apa pun. Jadi, mengapa pula orang-orang di dalamnya harus 'heboh'? SARAN : daripada memaksakan diri menyuguhkan adegan norak bin bodoh seperti itu, lebih baik adegan tersebut DIHILANGKAN. Untuk menginformasikan bahwa Si A dan Si B kecelakaan, lebih baik skip ke adegan di rumah sakit--sekalipun membosankan karena terlalu sering muncul--yang menggambarkan bahwa Si A dan Si B terluka parah atau tewas. Atau bisa juga lewat adegan pemberitahuan via telepon ke kerabat korban bahwa telah terjadi kecelakaan mobil. Tidak repot dan tidak akan ditertawakan penonton.
ANAK SEKOLAH YANG MENGGANGGU
Semua adegan yang menampilkan anak sekolah berdandan heboh, berambut gondrong dan kerjanya hanya menganggu teman sekolahnya yang lebih lemah (bullying). SARAN : seharusnya produser, sutradara dan penata kostum serta penulis skenario sinetron lebih sering main ke sekolah-sekolah untuk mengobservasi kenyataan di sekolah. Daripada menampilkan cewek berdandan menor dan hanya bisa mengganggu teman di sekolah, lebih baik mereka mengangkat hal lain seperti kemauan meraih prestasi di sekolah dan konflik yang umum timbul di sekolah seperti persaingan tidak sehat antar dua bintang basket atau contek-mencontek, hehehe. Tapi, ada cinta-cintaannya juga (asalkan tidak vulgar seperti komedi seks), biar tidak 'datar'...
BODI DITABRAK, CINTA BERTINDAK
Adegan tabrak-tabrakan yang melibatkan sepasang cowok dan cewek yang akhirnya saling jatuh cintrong. SARAN : waduh, apa tidak ada ide lain selain main tabrak-tabrakan seperti itu? Bagaimana kalau misalnya, cewek-cowok itu mulanya digambarkan bersaing (bukan saling benci) dengan sengit dalam berbagai bidang? Lalu, pada saat kritis, mereka 'terpaksa' saling membantu dan bekerja sama hingga akhirnya jatuh cinta. Atau, adegan pertemuan itu dibuat mirip dengan kisah lagu Mak Comblang-nya Potret. Kan seru, tuh? Pokoknya, segala cara ditempuh agar adegan tabrak-tabrakan itu tidak terwujud. Eneg, tahu?!
HANTU MEJENG
Adegan bodoh lainnya adalah...hantu mejeng. Baik sinetron maupun film bioskop sebenarnya sama : suka menampilkan hantu gondrong mejeng di ujung lorong atau di depan pintu. Diam di situ sampai pemeran yang melihatnya teriak-teriak dan kabur ke dalam rumah. Saya baru tahu, hantu ternyata banci tampil juga ya? SARAN : daripada mengandalkan hantu mejeng yang cuma mengagetkan tapi tidak menakutkan, lebih baik membangun suasana mencekam dan menakutkan melalui skenario dan eksekusi yang matang dan tidak mengada-ada. Hantu berbedak tebal sudah basi, cari sosok hantu lain yang kira-kira membawa 'angin segar'. Untuk yang satu ini, maaf, saya tidak ada ide bagaimana sebaiknya sosok hantu itu ditampilkan...

Demikianlah, ocehan saya kali ini, seorang pembosan yang bosan melihat adegan-adegan klise (dan bodoh) dalam sinetron. Saran saya mau diikuti atau tidak, terserah...

Yukkk...


2 komentar:

Brahm mengatakan...

Wah, kritis sekali. Nggak sembarangan orang bisa nulis sekritis ini. Pasti jam terbang nonton sinetronnya tinggi, hehehe.

Yg pasti, nggak cuma sinetron yg seperti itu. Film bioskopnya (yg skenarionya dibuat dg waktu yg lbh lama) juga banyak yg menggunakan trik2 klise begitu.

Jd, apanya ya yg salah?

PNMF mengatakan...

Apa boleh buat, Mas Brahm. Sebagai orang yang ga punya teve, mau ga mau terpaksa numpang nonton di kelurahan eh tante saya. Jadi, apa yang mereka tonton mau ga mau saya tonton juga Kecuali pas tayangnya Smallville, saya kompakan sama sepupu saya, jadi sinetron harus digusur! Yes!

Yang salah sih semuanya, mulai dari produser, sutradara, penulis skenario, pemain, kru sinetron (dan film) dan...penontonnya. Sudah tahu semuanya klise , masih juga diproduksi dan ditonton.

Kayaknya rumah produksi kita kebanyakan memang mental pedagang, yang mengira kalau membuat epigon2 sebuah film atau sinetron, akan mendatangkan untung karena 'itulah tema yang sedang disukai' masyarakat.

Huh, kenapa sih, para 'cukong' itu mengira bahwa apa yang tengah menjadi 'trend' adalah yang pasti disukai oleh masyarakat? Kalaupun ada yang protes, umumnya rating yang dijadikan senjata untuk membenarkan tayangan 'yang mereka pilih dan buat' untuk kita.

Jadi, kesimpulannya adalah... yang paling salah adalah mengapa para cukong itu memercayai lembaga rating macam AC Nielsen yang jelas-jelas tidak mencerminkan 'trend' itu sendiri?