Kamis, 18 Desember 2008

3 DOA 3 CINTA : PANGGUNGNYA DUO YOGA

Detos (maklum, yang nulis orang Depok!), Kamis siang, 18 Desember 2008. Usai interview kerja--yang kelihatannya akan gagal lagi hehehe--yang melelahkan di salah satu sekolah di Parung (jauh juga dari rumah saya), saya memilih 'kabur' ke salah satu pusat perbelanjaan paling beken di kota Depok itu. Bukan mau belanja, melainkan nonton....

Setelah dibuat manyun dengan karcis yang 15 ribu rupiah (kirain sama dengan di Cijantung, cukup ceban hehehe), saya cukup puas menyaksikan kisah tiga santri Pesantren Al-Hakim yang shalih dan... cakep-cakep hehehe. Ada Huda (Nicholas Saputra) yang porsinya paling banyak padahal konflik yang dihadapinya lebih ringan daripada Syahid (Yoga Bagus), yang tak cuma kehilangan ayah, tetapi juga harta benda dan kebebasannya. Tapi di antara mereka bertiga, karakter yang paling manusiawi--menurut saya, lho--adalah Rian (Yoga Pratama, yang dapat Citra 2008 itu), santri paling jahil yang suka bikin ketawa.

Ceritanya, Huda adalah anak angkat dan calon menantu Kiai Wahab yang sudah tidak sabar ingin mencari ibu kandungnya, selepas dari pesantren. Sayang, santri yang paling disayang ini merasa tidak enak hati pada Kiai Wahab (Brohisman) yang ternyata mempunyai rencana untuk cowok culun ini. Mau dinikahkan dengan Fatimah (atau Farokah? Saya lupa nama tokohnya, diperankan Diah Arum), putri Kiai Wahab, coy! Padahal, Huda naksir Donna Satelit (Dian Sastrowardoyo), penyanyi dangdut yang goyangnya justru tidak mirip satelit. Apalagi, Donna berjanji membantu Huda mencari alamat ibu Huda di Jakarta. Tambah jauhlah hati Huda dari keinginan ayah angkatnya....


Lalu ada Rian, favorit saya. Cowok jahil ini ngidam bikin film. Bahkan, dia belajar banyak soal proyektor film dari Pak Toha (Butet Kartarejasa), proyeksionis layar tancap di pasar malam d mana Donna juga menjadi penyanyi. Berbekal hadiah handycam dari ibunya, dia ingin memajukan usaha keluarga. Namun, kenyataan bahwa ibunya mau menikah lagi membuat Rian ngambek dan tak mau lagi pulang ke Surabaya, kota asalnya. Sebaliknya, dia ingin ikut rombongan Pak Toha saja, menjadi proyeksionis layar tancap....

Kisah lainnya--dan paling berat sekaligus agak aneh--adalah konflik yang melanda Syahid. Berasal dari keluarga miskin dengan ayah yang gagal ginjal, membuat Syahid menjadi labil. Dia menyalahkan 'Yahudi-Kafir-Amerika' atas kemalangan yang menimpa ayahnya dan terhanyut dalam Islam aliran 'garis keras'. Bahkan, dia bertekad mati syahid, lalu masuk surga, sesuai dengan namanya sendiri. Di sinilah anehnya. Alih-alih mengusahakan kesembuhan ayah yang sangat dicintainya, dia malah ingin mengorbankan diri dan hanya berharap berjumpa ayahnya di akhirat, di surga. Putus asa sih putus asa, tapi rasanya aneh saja...

Di luar kisah trio badung yang suka mengendap-endap keluar pondok pada tengah malam untuk bersenang-senang ini, ada cerita Kiai Wahab yang ingin anak laki-laki untuk mengelola pesantren. Dan... satu lagi, kisah hombreng di pesantren!

Hah? Gay?

Iya! Pas adegan-adegan pelecehan seksual yang dilakukan oleh santri senior (atau pengawas?) terhadap adik kelas Huda, saya jadi teringat teman di kampus dulu. Semasa SMA, karena bandel, dia dikirim ke sebuah pesantren. Eh, baru saja seminggu di sana, sudah ada (seorang santri senior!) yang menggerayangi tubuhnya saat santri-santri lain sedang tidur. Wah, teman saya langsung kabur, mengancam akan bunuh diri di depan orang tuanya kalau dikembalikan ke pesantren. Tapi ada hikmahnya juga, setelah itu, teman saya itu jadi sadar, bertobat, insyaf, tidak bandel lagi. Lucunya, waktu saya tanya perasaannya pas 'diperkosa' kakak kelasnya, dia menjawab, "yah... gitu, deh..." Yeee... itu sih ada ogahnya, tapi ada juga pengennya.... Dasar!

Hmm... ternyata di pesantren memang bisa saja terjadi 'hal seperti itu'. Padahal, menurut buku yang entah apa judulnya, siapa yang menulis dan kapan saya baca (saya lupa!), kaum homoseksual akan mengalami siksaan yang mengerikan : ditusuk tombak dari (maaf) anus hingga tembus ke mulut! Hiii.... Masalahnya, ini di pesantren, gitu lho.... Tempat di mana orang belajar mengendalikan diri dan mendekatkan diri pada Allah.

Tapi yah... kembali lagi, santri pun hanya manusia. Butuh kasih sayang dan butuh 'memerkosa' eh penyaluran hasrat....

Cukuplah soal santri gay. Yang pasti, 3 Doa 3 Cinta cukup menghibur karena humor-humornya yang manusiawi dan pernah juga saya alami : mengantuk saat mendengar khotbah dan tertawa melihat teman sedang casting. Saya sih kurang peduli dengan pesan moralnya karena pesan moral sudah cukup saya dengar dari Mamah Dedeh dan Aa' (ini acara favorit tante saya, yang suka saya tonton juga) tiap pagi di TV, yang saya cari hanya HIBURAN.

Alurnya agak lambat. Sampai saat Huda dicium Donna (oh yes... Huda tak 'melawan' saat disosor Donna, malah menikmati lalu hanya berseru, "astaghfirullaaah!"), saya belum menyadari bahwa Huda pun punya masalah cukup pelik seperti halnya dua sobatnya. Konfliknya begitu 'halus'.... Tapi, sedih juga sih, melihat trio santri cakep plus Kiai Wahab masuk penjara hanya gara-gara sebuah handycam.... Pelajaran dari insiden ini adalah... jangan main-main dengan kamera kalau belum mengerti cara mengoperasikannya!

Tapi, sudahlah. Seperti yang saya--yang banyak omong ini--sebutkan tadi, saya cukup puas. Akting Yoga Pratama dan Yoga Bagus, paling ciamik, lebih bagus daripada Nico dan (apalagi) Dian. Goyang satelit? Satelit apaan? Mestinya tiap kali goyang, Dian pakai pemeran pengganti. Diganti Olga Syahputra, misalnya hehehe.... Pantesan ga laku, soalnya goyangnya kurang hot!

Bahkan, saya jadi merasa juri FFI 2008 mesti lebih melek lagi kalau menilai film. Selain Yoga Pratama, mestinya Yoga Bagus masuk nominasi juga tuh. Kalau Mas Nico sih.... Bolehlah, walaupun masih ke-Rangga-rangga-an. Saya juga kagok pas melihat Nico menjadi pengajar (jadi pengganti Pak Kiai dan jadi kepala rumah tangga yang sarungan melulu!) di pesantren itu. Mungkin karena terpengaruh selentingan-selentingan yang saya dengar tentang dirinya, ya? Hehehe.

Salut buat Nurman Hakim dan segenap tim pembuat film yang berusaha menyajikan film drama tentang dunia (yang berhubungan) dengan Islam. Saya jadi merasa bahwa, tidak ada yang salah jika sesekali kita berbuat khilaf, asalkan jangan keterusan dan jangan sampai disengaja. Tidak ada manusia yang sempurna. Seorang santri pun bisa jadi tukang ngintip seperti Rian mengintip dan bahkan nekad mengajak jalan calon istri Huda....

Maka, pesan moral dari 3 Doa 3 Cinta ini adalah (apa, ya?)... saya ingin menontonnya satu atau dua kali lagi. Setelah kecewa berat pasca menonton film-film seperti CINTA SETAMAN dan DRUPADI, akhirnya kutemukan juga film (Indonesia) yang bagus...

Wassalam!

2 komentar:

phery mengatakan...

wah udah nonton ya. Hiks, aku jadi baca nih. Jadi gak surpres deh. kwkwkw

putrabelakangnya mengatakan...

anaknya kiai tuh Farokah...bukan Fatimah...cantik banget deh tuh cewek...naksir gw...daripada satelit yang mengangkasa, mendingan Farokah deh...^^