
Read More..
Bicara Film dan Sinetron dari Sudut Pandang Seorang Pembosan

Silakan tertawa melihat judul di atas. Habis, saya tidak punya ide lain mengenai judul yang lebih bagus dan tidak norak. Apalagi, saya belum menuntaskan musim pertama serial anime yang mempunyai cerita yang amat berbeda dengan anime lain yang selama ini saya tonton.
Detos (maklum, yang nulis orang Depok!), Kamis siang, 18 Desember 2008. Usai interview kerja--yang kelihatannya akan gagal lagi hehehe--yang melelahkan di salah satu sekolah di Parung (jauh juga dari rumah saya), saya memilih 'kabur' ke salah satu pusat perbelanjaan paling beken di kota Depok itu. Bukan mau belanja, melainkan nonton....
gan-adegan pelecehan seksual yang dilakukan oleh santri senior (atau pengawas?) terhadap adik kelas Huda, saya jadi teringat teman di kampus dulu. Semasa SMA, karena bandel, dia dikirim ke sebuah pesantren. Eh, baru saja seminggu di sana, sudah ada (seorang santri senior!) yang menggerayangi tubuhnya saat santri-santri lain sedang tidur. Wah, teman saya langsung kabur, mengancam akan bunuh diri di depan orang tuanya kalau dikembalikan ke pesantren. Tapi ada hikmahnya juga, setelah itu, teman saya itu jadi sadar, bertobat, insyaf, tidak bandel lagi. Lucunya, waktu saya tanya perasaannya pas 'diperkosa' kakak kelasnya, dia menjawab, "yah... gitu, deh..." Yeee... itu sih ada ogahnya, tapi ada juga pengennya.... Dasar!
ya jadi merasa juri FFI 2008 mesti lebih melek lagi kalau menilai film. Selain Yoga Pratama, mestinya Yoga Bagus masuk nominasi juga tuh. Kalau Mas Nico sih.... Bolehlah, walaupun masih ke-Rangga-rangga-an. Saya juga kagok pas melihat Nico menjadi pengajar (jadi pengganti Pak Kiai dan jadi kepala rumah tangga yang sarungan melulu!) di pesantren itu. Mungkin karena terpengaruh selentingan-selentingan yang saya dengar tentang dirinya, ya? Hehehe.
Akhirnya saya bisa juga menonton salah satu film yang saya tunggu-tunggu tahun ini, pada hari terakhir Jiffest 2008. Dari judul filmnya saja, sebenarnya saya kurang suka karena merujuk pada salah seorang tokoh dalam kisah Mahabrata yang--bagi saya--menyebalkan : Drupadi.
Eh, kok jadi membahas Wibisana, sih? 'Kan yang ditonton film tentang Drupadi, jadi yang dibahas ya cewek yang satu itu, dong! Hehehe, tadinya, saya berharap, setelah menonton film yang katanya merupakan interpretasi baru kisah Mahabrata ini, saya jadi lebih memahami Drupadi. Pada akhirnya, saya jadi memiliki pandangan yang baru tentang Drupadi : bahwa dia bukan wanita yang menyebalkan lagi.
hlah, saya cukup menikmati pemandangan 'indah' dalam film ini (meskipun masih mikir, nasib penari berkalung permata yang diambil Kurawa bagaimana, ya?). Yap, apalagi kalau bukan kostum yang dikenakan oleh para pemain film bertabur bintang ini plus tentu saja, para pemainnya sendiri hehehe. Dian yang cantik (duh, beruntung sekali anak pengusaha yang bisa menjadi pacarnya itu!), Nicholas Saputra yang montok (sayang, Arjuna malah jadi mirip Rangga di tangannya, kurang genit!), Dwi Sasono yang ehm (setelah melihat kumisnya, saya pikir dia cukup pantas menjadi Yudhistira) dan Ario Bayu yang bulu dadanya paling 'rimbun' (mungkin inilah alasan dia terpilih memerani Bima), ow... itu semua menarik untuk disimak tanpa mengedipkan mata hehehe. Untuk kalian berempat, saya.... Ah, tidak jadi.... Malu...
Namun pada satu saat, pandangan saya tertumpu pada poster film Hollywood yang menampilkan sepsang remaja nan rupawan yang membuat air liur saya hampir menetes seperti vampir melihat kambing eh darah segar manusia. Setahu saya, film itu, TWILIGHT, adalah film yang cukup ditunggu oleh penggemar novelnya. Mungkin saja ceritanya memang bagus. Namun yang pasti, saya lebih tertarik menikmati 'pemandangan indah' dalam film itu : dua pemeran utama yang sosoknya membuat saya sirik setengah mati. Hehehe.
Yang simpel-simpel itu juga saya saksikan lewat film berikutnya, DUNYA & DESIE. Meskipun pihak Jiffest membuat kesalahan dalam menyusun sinopsis film dalam buku program, setelah menonton saya cukup puas dan tak terganggu. Ceritanya nih, tentang dua sahabat yang 'mengikuti jalannya' sendiri. Pertanyaan yang sering pula saya terima dari penulis-penulis skenario pemula adalah bagaimana cara mengirim naskah skenario ke production house atau rumah produksi. Sebenarnya tidak berbeda jauh dengan pengiriman naskah novel, tapi lebih baik saya tuliskan uraian singkat.
Bila anda sama sekali baru dan hendak mengirimkan naskah skenario ke PH, siapkan print out SKENARIO yang disertai dengan SINOPSIS GLOBAL, DAFTAR KARAKTER, JENIS CERITA, DURASI (WAKTU), dan SEGMEN PENONTON kalau bisa dilengkapi DAFTAR KELEBIHAN CERITA SKENARIO ANDA DIBANDINGKAN TAYANGAN-TAYANGAN YANG SUDAH ADA; dan jangan lupa BIODATA singkat dilengkapi alamat dan nomor telepon yang bisa dihubungi. Bila anda sudah pernah menulis beberapa skenario di tempat lain dan sudah pernah tayang, cantumkan di biodata anda, apa judulnya, tayang kapan, di stasiun televisi mana, dan bila memungkinkan adalah data rating tulisan anda. Data ini penting, karena industri sinetron dan pertelevisian di Indonesia patokannya rating, kalau rating bagus---apapun tulisan anda, akan lebih cepat difollow up.
Bila anda mengirimkannya lewat pos atau ekspedisi pengiriman, pastikan anda mengisi semua daftar kolom isian untuk pengirim dan penerima. Hal ini untuk melacak bila terjadi sesuatu dengan naskah anda. Misalnya, naskah anda tidak sampai ke tujuan.
Bila anda menyerahkannya langsung pada PH, mintalah tanda bukti penyerahan naskah dan tanyakan kepada siapa anda mengurus follow up naskah anda tersebut dan berapa lama anda akan dapat kabar. Biasanya lebih kurang 3-6 bulan. Makin besar PH yang anda tuju, makin lama pula waktu untuk menerima kabar tentang naskah anda.
Bagi yang sudah terbiasa menulis atau bekerja sama dengan PH tentu tidak masalah untuk mengirimkan via email karena cepat dan mudah, dan lebih praktis. Kemungkinan untuk disalahgunakan juga kecil karena sudah saling kenal. Tapi bagi yang baru sama sekali, cara ini tidak saya sarankan. Selain menghindari penyalahgunaan---meskipun sulit sekali ini terjadi karena produksi satu cerita itu tidak hanya melibatkan satu dua orang, tapi banyak orang dan tidak mungkin penulis tidak terlibat---karena penulis harus menuliskan blue print skenario yang disepakati tim, sebelum produksi jalan. Print out juga membantu pihak PH untuk cepat membacanya.
Kalau anda sudah mengirimkan naskah, selama tiga bulan tidak ada kabar, tanyakan tentang naskah tersebut. Kinerja di PH jauh lebih ribet dan kompleks daripada penerbitan. Jadi, anda yang sama sekali baru harus lebih sabar kalau naskah anda belum tersentuh sama sekali dalam waktu tiga bulan. Kalau anda tidak sabar dan buru-buru ingin menawarkan ke PH lain, anda bisa menariknya kembali.
Apakah etis menyerahkan/mengirimkan satu naskah ke beberapa PH yang berbeda-beda dalam satu waktu? Jawabannya, sama seperti di pengiriman naskah novel; bisa beragam. Namun menurut saya pribadi, tidak etis. Lebih baik mengirimkan naskah ke satu PH lebih dulu baru ketika ditolak, anda bisa tawarkan ke PH lain.
Ke mana dikirimkan? Ada banyak PH di Indonesia, anda bisa browsing sendiri di internet dan berikut ini adalah alamat beberapa PH.
MULTIVISION PLUS: Jl. KH. Hasyim Ashari Kav 125 B Blok C2 No 30-34; Kompleks Perkantoran Roxy Mas; Telp 021 6335050 hunting; Jakarta 10150
MD PRODUCTION: Jl. Tanah Abang III/23A; Telp 021 3451777; Jakarta 10160
RAPI FILM: Jl. Cikini No 7; Telp 021 3857175; Jakarta Pusat
SINEMART: Jl. Raya Kebayoran Lama No. 17 D; Telp 021 5309228; Jakarta Selatan
SORAYA INTERCINE FILM: Jl. Wahid Hasyim 3 Menteng; Telp 021 39837555; Jakarta 10340
Pertanyaan lain yang sering muncul, benarkah kalau tidak punya relasi di PH, naskah kita akan ditelantarkan dan tidak diurus, bahkan disalahgunakan?
Sama sekali tidak benar. Saya adalah orang asing yang tidak tahu apa-apa dan tidak tahu siapa-siapa ketika mengirimkan contoh tulisan saya ke PH. Follow up yang cepat padahal waktu itu saya domisili di Yogyakarta, mungkin karena keberuntungan saya---tapi ke mana pun saya melangkah dan menitipkan karya saya, saya percaya kalau karya itu bagus dan layak akan cepat difollow up.
Jadi yang paling penting adalah buat tulisan yang bagus. Bukankah itu pekerjaan seorang penulis?
Dan setelah sekian waktu saya bekerja di PH, saya menjadi tahu penolakan atau tidak ada follow up dilakukan karena memang cerita dan skenario tersebut tidak layak untuk difollow up. Jadi, jangan pernah takut untuk mencoba dan terus berkarya. Kalau ditolak, ya tawarin lagi ke tempat lain atau bikin lagi yang jauh lebih bagus. Di sini anda harus lebih aktif untuk tanya kabar naskah ya, karena siapa lagi yang paling peduli dengan karya anda pertama kali kalau bukan anda sendiri?
Adalah bagus kalau anda punya relasi di PH tertentu, tapi itu tidak akan menjamin karya anda bisa lolos seleksi yang luar biasa ketat. Apalagi setiap hari naskah yang diterima cukup banyak. PH punya banyak pilihan dan kalau karya anda tidak benar-benar ’menjual’ jangan pernah berharap akan ada follow up.
Berbeda dengan penerbit, PH biasanya tidak mengembalikan naskah yang masuk, kecuali anda ambil sendiri. Kalau anda tidak tanya kabar naskah anda dan tidak ada follow up, dalam waktu setahun naskah-naskah itu akan dihancurkan. File-file yang dikirim lewat email pun akan dimusnahkan. Jadi, nggak usah terlalu khawatir akan disalahgunakan.
Nah, selamat menulis skenario dan selamat mengirimkannya. Semoga bermanfaat.
Kinoysan
Diambil dari blog Ari Kinoysan
http://kinoysan.multiply.com/journal/item/19/mengirim-naskah-skenario-ke-ph
Berani taruhan, pasti banyak yang setuju dengan pilihan saya ini. Kalau tidak setuju, emang gue pikirin? Hehehe...Jadi, cukuplah dikatakan bahwa saya memiliki 'orang-orang favorit' dalam berbagai bidang yang tak beralasan jika sampai saya cemburui. Misalnya, saya memilih Chow Yun Fat, Johhny Depp, Shah Rukh Khan (oh yes, I love this man!) Christopher Lambert dan mendiang Heath Ledger sebagai aktor-aktor luar negeri favorit. Untuk aktor dalam negeri, saya menyukai akting Nicholas Saputra dan Deddy Mizwar. 'Umum' sekali, tapi itulah yang sebenarnya. Sedangkan untuk aktris, saya suka Ria Irawan dan Nani Wijaya (kalau jadi nenek 'preman', beliau bermain bagus sekali).


Nah... ini dia sosok fiktif yang menginspirasi saya untuk mulai menulis lagi. Cowok jutek tapi kesepian ini (ceritanya) bisa bikin puisi yang membuat hati cewek populer maca Cinta jadi penasaran. Sebenarnya saya tidak begitu bisa menulis puisi. Tapi entah mengapa, setelah melihat aksi Rangga menaklukkan hati Cinta hanya dengan puisi, saya jadi teringat pada cita-cita lama yang pernah saya lupakan : menulis sebagai pilihan hidup. Soo desu... karakter yang mirip karakter cowok-cowok manga dan anime (cool, penyendiri dan agak aneh) ini membuat saya yakin bahwa dengan menulis, kita bisa mendapatkan banyak hal positif : cewek (cinta), penghargaan dan... duit!Demikianlah, ocehan saya kali ini, seorang pembosan yang bosan melihat adegan-adegan klise (dan bodoh) dalam sinetron. Saran saya mau diikuti atau tidak, terserah...
Yukkk...
Dua hari yang lalu, setelah berjuang menembus kemacetan Jakarta di atas Kopaja 57 (hebat 'kan, ke mana-mana saya selalu naik 'mobil besar'), akhirnya saya tiba juga di Blok M Plaza. Tujuannya hanya satu : menonton The Dark Knight (TDK).
Saya gemas menyaksikan keegoisan para penduduk Gotham yang berlaku tidak adil pada Batman karena ketakutan menghadapi teror Joker. Well, seperti itulah manusia bila hidupnya terancam. Habis manis sepah dibuang...
mungkin mengubah kita 180 derajat. Kalau sudah begini, pilihan menjadi seorang pahlawan (atau lebih dari itu) harus diambil oleh orang-orang yang benar-benar konsisten hingga mampu mengorbankan segalanya, termasuk kehidupannya sendiri. Jadi, untuk Batman, bisa dikatakan, out of the darkness, comes the Knight. Tagline ini sumpah, memang sangat menggambarkan sosok Batman dan isi film ini.
Sekali lagi, saya tahu, adegan aksi dalam film ini memang bagus dan seru, tetapi bukan itu yang menakjubkan bagi saya. Bagaimana para penulis cerita membangun cerita yang kuat dan penuh kejutan (ditambah akting cihuy Heath Ledger, tentunya!) adalah sisi yang paling saya nikmati dan kagumi dari TDK.